Flora dan Fauna menurut perspektif Buddhisme
Kehidupan manusia di bumi tidak lepas dari alam dan kehidupan makhluk bumi lainnya. Hal yang paling dekat dengan kehidupan manusia adalah beragam tumbuhan dan hewan. Ketiganya saling hidup bergantungan dan berkaitan satu sama lainnya, dan masing-masing tidak dapat dilepaskan. Manusia dan hewan membutuhan tumbuhan, tumbuhan membutuhkan hewan dan sebaliknya*. Semua saling bergantung untuk dapat bertahan hidup di bumi ini. Manusia dan hewan membutuhkan makanan yang diperolehnya dari alam yaitu tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan membutuhkan serangga untuk proses penyerbukan, begitu pula sebaliknya. Karenanya penting bagi kita untuk menjaga keharmonisan antara kehidupan manusia dengan alam dan sekitarnya, yaitu tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang sering kita kenal sebutannya sebagai flora dan fauna. Lalu bagaimana sikap Buddhisme dalam menyikapi kehidupan manusia terhadap flora dan fauna? Sebelum kita bahas lebih jauh mengenai cara pandang dan sikap Buddhisme mengenai flora dan fauna, ada baiknya untuk lebih tahu apa itu flora dan fauna.

Pengertian flora dan fauna
Flora berasal dari bahasa latin yang berarti Dewi bunga ‘flora’. Kata flora bisa digunakan sebagai sebutan dari kelompok tanaman atau yang berhubungan dengan kelompok tanaman, bahkan bakteri pun bisa disebut sebagai flora. Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata “flora” diartikan sebagai keseluruhan kehidupan jenis tumbuh-tumbuhan suatu habitat, daerah, atau strata geologi tertentu. Jadi kata flora kita dapat artikan sebagai seluruh kelompok tanaman yang hidup di suatu habitat, daerah atau strata geologi tertentu.
Sedangkan, kata Fauna yang juga berasal dari bahasa latin, artinya mengacu pada hewan atau klasifikasi hewan yang ditemukan di suatu wilayah/daerah tertentu. Menurut KBBI, Fauna adalah keseluruhan kehidupan hewan suatu habitat, daerah atau strata geologi tertentu, atau bisa juga diartikan sebagai dunia hewan.
Berdasarkan pengertian di atas maka flora dan fauna dapat diartikan sebagai istilah kolektif yang merujuk kepada kelompok tanaman dan satwa/hewan di suatu habitat atau daerah tertentu pada satu periode tertentu.
Ilmu yang mempelajari tentang flora dan fauna disebut Botani dan Zoologi. Botani dan Zoologi merupakan cabang ilmu biologi** (ilmu mengenai kehidupan). Botani merupakan salah satu bidang kajian dalam biologi yang mengkhususkan diri dalam mempelajari seluruh aspek biologi tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, dalam botani dipelajari semua disiplin ilmu biologi untuk mempelajari pertumbuhan, reproduksi, metabolisme, perkembangan, interaksi dengan komponen biotik dan komponen abiotik, serta evolusi tumbuhan.
Sedangkan Zoologi adalah cabang biologi yang mempelajari struktur, fungsi, perilaku, serta evolusi hewan. Ilmu ini antara lain meliputi anatomi perbandingan, psikologi hewan, biologi molekular, etologi, ekologi perilaku, biologi evolusioner, taksonomi, dan paleontologi. Kajian ilmiah zoologi dimulai sejak sekitar abad ke-16
Korelasi keragaman flora dan fauna dengan Buddhisme
Bentuk flora dan fauna di suatu daerah biasanya berbeda dengan daerah lainnya, dengan kata lain ada beragam jenis dan bentuk tumbuh-tumbuh dan hewan-hewan di bumi ini. Keanekaragaman mereka di suatu wilayah tidak terlepas dari dukungan kondisi di wilayahnya. Dukungan kondisi suatu wilayah terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor-faktor fisik (abiotik) dan faktor non fisik (biotik). Yang termasuk faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Sama halnya seperti apa yang dikatakan oleh Buddha, bahwa sifat segala sesuatu adalah terus berubah (anicca). Begitu pula dengan bukti beragamnya flora dan fauna di suatu daerah tertentu yang disebabkan oleh faktor fisik (abiotik). Di Buddhisme Setiap elemen-elemen dasar dari unsur padat (Pathavi/Earth), Cairan (Apo/Water), Panas (Tejo/Api), maupun Pergerakan (Vayo/Angin) dikenali sebagai unsur-unsur yang membentuk alam semesta termasuk flora dan fauna, semuanya merupakan fenomena yang selalu berubah. Jadi tidak heran jika terdapat banyaknya keragaman dan munculnya jenis flora dan fauna baru, atau bahkan ada beberapa jenis tertentu yang berevolusi atau punah. Hal ini juga dipengaruhi oleh hukum yang berlaku pada alam (alam semesta). Di dalam ajaran Buddha hukum alam ini dapat dikategorikan dalam lima aturan yang disebut panca niyamadhamma, yaitu utuniyama (hukum fisika), bijaniyama (hukum biologi), cittaniyama (hukum psikologis), kammaniyama (hukum perbuatan), dhammaniyama (hukum kausalitas).
Faktor non fisik (biotik) yang menyebabkan keragaman flora dan fauna adalah faktor yang disebabkan oleh manusia, hewan dan tumbuhan. Hal ini sama halnya dengan hukum saling keterkaitan atau musabab yang saling bergantung. Di dalam Buddhisme hukum alam ini dikenal dengan sebutan Paticcasamupada.
Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa adanya saling keterkaitan antara kehidupan manusia dengan flora dan fauna. Walaupun makhluk hidup di dalam pandangan ajaran Buddha sendiri hanya terdiri dari Manusia dan hewan – tumbuhan tidak termasuk di dalamnya. Namun di dalam praktik kehidupan, ketiganya saling memengaruhi. Seperti contohnya manusia mampu mengubah lingkungannya menjadi daerah pertanian atau perkebunan untuk memenuhi kebutuhan tertentu, serta dapat menyebarkan tumbuhan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Selain itu manusia juga mampu memengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini.
Namun selain itu faktor hewan juga memiliki peranan terhadap penyebaran tumbuhan atau flora. Misalnya lebah dalam proses penyerbukan, kelelawar, burung, tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan. Sedangkan di lain pihak peranan faktor tumbuh-tumbuhan yang paling utama adalah menyediakan oksigen dan makanan bagi kelangsungan hidup hewan dan manusia selain untuk menyuburkan tanah. Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga memengaruhi kehidupan faunanya. Contohnya bakteri saprophit merupakan jenis tumbuhan mikro yang membantu penghancuran sampah-sampah di tanah sehingga dapat menyuburkan tanah.
Kehidupan yang saling memengaruhi dan berkaitan itulah yang menyebabkan beragamnya flora dan fauna di bumi ini. Bahkan pola hidup yang dilakukan manusia akan berdampak terhadap lingkungan yang juga berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna. Begitu pula sebaliknya perubahan dan evolusi yang terjadi pada flora dan fauna akan memengaruhi pola hidup manusia.

Pandangan dan Perilaku Buddhisme Terhadap Flora dan Fauna
Ajaran Buddha erat sekali kaitannya terhadap alam termasuk flora dan fauna. Buddha sendiri menemukan Dhamma yang begitu indah tepat di bawah pohon Bodhi (Ficus religiosa). Tidak hanya itu saja, banyak sekali para bhikkhu dan bhikkhuni pada zaman Buddha Gautama yang diceritakan tinggal di hutan-hutan. Bahkan sampai sekarang pun masih ada para bhikkhu dan bhikkhuni yang tinggal di hutan. Mereka tidak hanya bersahabat dengan pohon-pohon di hutan, tetapi pula bersahabat dengan beragam jenis hewan yang tinggal di dalamnya. Sebagai contoh nyata yang masih dapat dilihat saat ini adalah para bhikkhu yang tinggal di daerah Saiyok provinsi Kanchanaburi-Thailand. Mereka mampu tinggal dan bersahabat dengan para harimau sejak tahun 1999 sampai sekarang. Hal ini merupakan satu bentuk nyata keharmonisan manusia terhadap flora dan fauna.
Untuk dapat bahagia dan bertahan hidup di dunia ini, Buddhisme mengajarkan bahwa sebagai manusia, kita harus mampu hidup secara harmonis dengan lingkungan dan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna. Karena sifat dan hukum alam saling bergantungan dan berkaitan, begitulah kehidupan kita di dunia ini saling bergantung satu dengan yang lainnya. Jika saja ada salah satu unsur yang ada mengalami kerusakan, maka unsur yang lain akan terkena imbasnya. Contohnya saja dampak yang dihasilkan jika terjadi kerusakan terhadap flora dan fauna; ekosistem menjadi tidak seimbang, Sumber Daya Alam menjadi langka, menurunnya kualitas kesehatan, tragedi lingkungan karena kerusakan hutan (terjadi banjir dan longsor), hilangnya kesuburan tanah, dan bisa saja sampai pada putusnya daur kehidupan di bumi. Maka dari itu Buddhisme mengajarkan berbagai praktik kehidupan yang membawa manusia kepada keharmonisan, yaitu melalui praktik Empat Kediaman Luhur/Cattari Brahma Vihara = 4 Pikiran Nirbatas (Appamanna), dan ada pula Aturan Moralitas Buddhis yang diterapkan bagi umat awan maupun para samana. Dengan praktik-praktik itulah Buddhisme memandang dan memperlakukan flora dan fauna di dalam kehidupan manusia di bumi.
Penerapan Cattari Brahma Vihara/Empat Kediaman Luhur dan Aturan Moralitas Buddhis terhadap Flora dan Fauna
Cattari Brahma Vihara/Empat Kediaman Luhur yaitu; Kasih Sayang (Metta), Belas Kasihan (Karuna), Bela Suka/ Simpati (Mudita), Tenang Seimbang (Upekkha). Wujud praktik inilah yang diterapkan oleh ajaran Buddha terhadap Flora dan Fauna, dan kasih sayang universal “loving-kindness” merupakan praktik yang paling mendasari ajaran Buddha. Praktik kasih sayang ini ditujukan kepada semua makhluk tak terbatas dan tak ternilai. Di dalam Paritta Karaniyametta Sutta dikatakan dengan jelas bahwa praktik kasih sayang hendaknya dipancarkan tanpa batas kepada makhluk hidup apa pun juga, baik yang lemah, kuat, panjang, besar, sedang, pendek, maupun kecil. Bahkan Buddha mengumpamakan kasih sayang itu sebagai seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya untuk melindungi anaknya yang tunggal.
Selain itu pada Khandha Paritta, kasih sayang terhadap fauna tercermin dengan sangat jelas, bahwa kasih sayang hendaknya dipancarkan kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, berkaki dua, berkaki empat dan berkaki banyak. Terlebih lagi pada kisah si Gajah buas Nalagiri yang dijinakkan oleh Buddha dengan kekuatan ajaib yang tidak lain adalah kekuatan kasih sayang. Manusia sesungguhnya dapat hidup harmonis dengan para binatang buas kalau saja memiliki kasih sayang.
Pada zaman sekarang ini terdapat pula praktik kasih sayang dan belas kasihan terhadap hewan-hewan dengan cara Vegetarian (tidak makan daging). Walaupun vegetarian tidak diwajibkan di dalam ajaran Buddha, namun Buddha tidak pernah mengecam ataupun menganjurkan praktik vegetarian.
Selain praktik vegetarian, dikenal pula yang namanya Fangsen atau melepas makhluk hidup. Pada praktik ini biasanya para umat akan melepaskan hewan-hewan yang seharusnya hidup di alam bebas. Contohnya ikan lele yang ditangkap untuk dijual atau dijadikan santapan manusia akan dibeli dan dilepaskan ke sungai. Apa pun bentuk praktiknya, baik ber-vegetarian ataupun Fangsen (lepas makhluk) itu sediri merupakan sebagai salah satu bentuk untuk mengekspresikan kasih sayang dan belas kasihan terhadap hewan.
Kemudian, pengertian adanya hukum kamma atau sebab akibat dan kelahiran kembali (Punabhava) di dalam Buddhisme menumbuhkan rasa simpati atau bela suka umat Buddha terhadap para hewan. Di dalam ajaran ini dikatakan bahwa manusia dapat terlahir kembali sebagai makhluk-makhluk di empat alam rendah*** yang salah satunya adalah alam hewan. Dengan berpikir bagaimana jika seandainya mereka atau sanak keluarga mereka terlahir sebagai hewan, karena seperti ikut merasakan penderitaan menjadi hewan, timbul rasa belas kasihan dan simpati terhadap hewan-hewan.
Di dalam banyaknya cerita-cerita Jataka yang menceritakan kelahiran kembali sebagai hewan pun banyak memberikan testimoni mengenai keyakinan terhadap kelahiran kembali dan rasa simpati kepada para hewan. Ditambah pengertian mengenai hukum kamma yang mengatakan bahwa siapa yang menanam, maka dia lah yang akan menuai, membuat umat Buddha berpikir dua kali untuk menyakiti makhluk lain. Sebagaimana ia ingin makhluk lain memperlakukan dirinya dengan baik, begitu pula makhluk lain ingin diperlakukan dengan baik pula.
Praktik Cattari Brahma Vihara/Empat Kediaman Luhur ini juga terlihat penerapannya terhadap flora. Dengan membudidayakan penanaman kembali pohon Bodhi (Ficus religiosa) di berbagai tempat dan daerah, atau menghindari perusakan tanaman, mencerminkan bahwa betapa Buddhisme menghargai dan peduli terhadap lingkungan dan budidaya tanaman. Bahkan kelahiran penerangan sempurna dan parinibana Buddha Gautama pun terjadi di bawah pohon. Hal ini erat kaitannya bahwa Buddha sendiri menghormati tumbuh-tumbuhan dan pepohonan sebagai bagian dari kehidupan.
Kemudian dari segi aturan moralitas Buddhis terdapat lima sila bagi umat awam (dikenal dengan sebutan Pañca sila). Di dalam aturan moralitas Buddhis ini umat Buddha mempraktikan pengendalian diri dari kegiatan yang tidak bermanfaat, merusak dan menghilangkan kehidupan. Mengembangkan kewaspadaan dan kesadaran diri untuk tidak melakukan kegiatan yang merugikan makhluk lain ataupun menghilangkan nyawa makhluk hidup. Umat Buddha juga diharapkan untuk tidak terlibat dalam perdagangan daging (manusia maupun hewan).
Aturan moralitas monastik (bagi para bhikkhu dan bhikkhuni) malah lebih ketat lagi yaitu melarang para bhikkhu dan bhikkhuni untuk merusak tanaman. Sebagai contoh yaitu pada musim hujan di hari Kathina#, Buddha menetapkan aturan melarang bepergian selama musim itu yaitu untuk menghindari rusaknya tanaman yang bisa saja terinjak-injak oleh para bhikkhu dan bhikkhuni, dan juga kemungkinan mencederai cacing-cacing atau serangga-serangga yang muncul ke permukaan selama musim hujan. Bhikkhu juga dilarang untuk menggali tanah, bahkan ada larangan yang juga mengatakan bhikkhu untuk tidak meminum air yang belum disaring. Semua aturan moralitas ini mengarah kepada bentuk simpati, kasih sayang dan rasa kepedulian Buddhisme terhadap alam termasuk flora dan fauna.
Kehidupan harmonis yang ditawarkan Buddhisme dengan memegang aturan moralitas yang ada mampu menciptakan perdamaian dan keseimbangan ekosistem di dunia ini jika dijalankan dengan sepenuh hati.
Belajar dari Flora dan Fauna
Untuk dapat hidup bahagia di dunia ini manusia harus mampu hidup harmonis dan memahami hukum alam. Bagi mereka yang melanggar hal ini niscaya kehidupannya akan mengalami penderitaan. Jika saja manusia tidak memiliki moralitas dalam menjaga alam berserta isinya yaitu flora dan fauna, kemungkinan yang pasti adalah kehancuran bagi manusia itu sendiri.
Dunia tak selebar daun kelor, Dhamma begitu luas dan dalam sudah seharusnya manusia tidak menutup dirinya dan lebih banyak belajar dari kehidupan flora dan fauna. Sebagaimana dikatakan dalam Vinaya.II,162 bahwa, “Jika binatang mampu bertindak sopan santun dan saling menghargai terhadap sesama, maka kita seharusnya pun begitu.”
Banyak hal di dalam kehidupan hewan dan tumbuhan yang mampu memberikan nilai-nilai bagi manusia, contohnya saja kehidupan para semut yang mencerminkan kerja keras, rasa gotong royong dan hormat-menghormati terhadap sesama, atau kehidupan para lebah yang tidak pernah lelah dalam memberi, dan proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu yang juga memberikan nilai Dhamma bahwasannnya manusia mampu merubah dirinya dari makhluk duniawi menjadi makhluk adiduniawi – seperti Pangeran Gautama yang berjuang hingga menjadi Buddha.
Perumpamaan-perumpamaan moralitas yang juga sering kita dengar di dalam Buddhisme yaitu perumpamaan yang diambil dari pepohonan. Seperti halnya perumpamaan pohon cemara yang tetap berdiri tegak di saat badai salju dan bunga mawar yang akhirnya layu dan mati, memberikan pelajaran bagaimana harusnya manusia bersikap dan berucap di dalam hidupnya.
Kesimpulan
Kehidupan manusia dengan flora dan fauna saling berkaitan satu dengan lainnya, kerusakan yang terjadi pada salah satunya akan berdampak pula bagi yang lainnya. Untuk itu manusia diharapkan agar dapat hidup harmonis dengan flora dan fauna, yaitu dengan menjaga kemoralitasannya terhadap lingkungan. Ajaran Buddha dalam hal ini menawarkan pola kehidupan harmonis antara manusia dengan flora dan fauna yaitu dengan mengembangkan sikap melalui praktik Empat Kediaman Luhur/Cattari Brahma Vihara = 4 Pikiran Nirbatas (Appamanna), dan Aturan Moralitas Buddhis bagi umat awan maupun para samana. Praktik inilah yang diterapkan oleh umat Buddha dalam bagaimana mereka memandang dan bersikap terhadap flora dan fauna.
Kemudian tidak hanya itu saja, manusia juga diharapkan untuk belajar dari alam termasuk flora dan fauna yang memang banyak memberikan ajaran kasih sayang dan kemoralitasan di dalam kehidupan.
Daftar Pustaka:
http://florafaunaindonesia.blogspot.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Tiger_Temple
http://id.wikipedia.org/wiki/Zoologi
http://id.wikipedia.org/wiki/Botani
http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2040624-dampak-kerusakan-flora-dan-fauna/
http://brainz.org/What-flora-and-fauna/
http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/07/hukum-alam-semesta-sudut-pandang-buddhisme/
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/desilva/attitude.html
http://willyyandi.wordpress.com/2009/12/20/ekologi-buddhis/
Paritta suci
Koleksi artikel “KITAB” Ehipassiko Foundation tahun 2010
Foot note:
* Sebenarnya sebagian besar tumbuhan tidak membutuhkan hewan/ manusia untuk bertahan hidup, namun kehidupannya berkaitan dengan kehidupan hewan dan manusia, dengan kata lain manusia dan hewan memengaruhi kehidupan tumbuhan.
** Istilah ini diambil dari bahasa Belanda “biologie”, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, βίος, bios (“hidup”) dan λόγος,logos (“lambang”, “ilmu”). Dahulu—sampai tahun 1970-an—digunakan istilah ilmu hayat (diambil dari bahasa Arab, artinya “ilmu kehidupan”). http://id.wikipedia.org/wiki/Biologi
*** Di Buddhisme mengenal 31 alam kehidupan dan 4 di antara alam kehidupan lainnya merupakan alam rendah yang penuh dengan penderitaan dan ketidakpuasan (dugati loka), salah satu dari ke-4 alam sangsara tersebuta adalah alam hewan (Tiracchana).
# Ada 4 hari raya di dalam Buddhisme yaitu Waisak, Magha Puja, Asadha dan Kathina. Kathina merupakan salah satu hari raya yang berlangsung pada musim hujan. Pada musim hujan ini para bhikkhu dan bhikkhuni akan berdiam di satu tempat untuk melatih diri (vassa), dan di hari raya itu pula para umat Buddha diberikan kesempatan baik untuk berdana kepada para bhikkhu dan bhikkhuni
Asal Usul Pohon Salak dan Cerita-cerita Bermakna Lainnya” oleh Insight Vidyasena
Telah terbit buku terbaru “Asal Usul Pohon Salak dan Cerita-Cerita Bermakna Lainnya” oleh Insight Vidyasena!
Penulis:
1. Willy Yanto Wijaya
2. Hendry Filcozwei Jan
3. Lani
4. Cici Metta
5. Linda Tiratana
6. Selfy Parkit
7. Sasanasena Seng Hansen
8. Huiono (Hart Ye)
9. Willy Yandi Wijaya
10. Vimalavati Vita Felicia
Buku ini berisikan kumpulan cerpen yang sarat makna, yang setiap kisahnya memberikan inspirasi dan nilai-nilai pembelajaran.
Berikut ini adalah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini:
1. Asal Usul Pohon Salak
2. Percayakah Anda?
3. Senyum Bidadari
4. Selamat Jalan Koko
5. Guru Kecil
6. Melodi Kehidupan
7. Buku Tahunan
8. Mengapa Air Laut Terasa Asin?
9. Bhikkhu
10. Bahagia di Ujung Pelangi
11. Nasi Basi
12. Puding Kasih
13. Hidup Bukanlah Matematika
14. Letak Surga dan Neraka
15. Dewasa Dalam Perubahan
*****
Versi bunik (buku elektronik – ebook) buku ini dapat diunduh melalui link berikut :
Untuk mendapatkan buku versi cetak, Anda dapat menghubungi Insight Vidyasena Production, yang alamat email dan juga teleponnya/ sms tertera di halaman 137 dalam bunik yang dapat diunduh melalui link di atas.
Selamat membaca. =) Semoga kita semua berbahagia..
Siapkah Jika Dia Datang?
Oleh Selfy Parkit
Ketika saya berusia 9 tahun nenek saya meninggal dunia. Inilah saat pertama kalinya saya mengetahui bahwa manusia akan meninggal dan pergi untuk selamanya dari kehidupan saya, entah pergi ke mana saat itu saya belum mengerti. Karena belum mengerti saya tetap diam, menangis pun tidak, walaupun saat itu seluruh keluarga saya sudah bercucuran air mata. Barulah ketika saya merasa kehilangan nenek yang memang sudah turut andil dalam membesarkan saya, saya merasa sedih dan menangis. Hidup saya saat itu terasa sepi, tak ada lagi tempat mengadu, bermanja dan seolah-olah takkan ada orang yang dapat mengerti saya. Sungguh kematian menjadi sebuah misteri dan pertanyaan bagi saya.
Pengertian Kematian
Kematian, mati atau meninggal, ketika mendengar kata-kata ini banyak sekali dari kita yang mengartikannya sebagai sesuatu yang menakutkan, menyedihkan dan lain sebagainya. Sebenarnya apakah arti kata dari kematian, mati atau meninggal bagi setiap orang? Umumnya orang akan mengartikan kematian sebagai akhir dari hidup, berhenti bernafas dan tidak bernyawa. Definisi kematian secara umum ini memang sudah dikenal pada zaman dahulu kala – mati diartikan sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. Namun definisi ini sangatlah abstrak, banyak orang yang masih mempertanyakan di manakah letak nyawa sesungguhnya di dalam tubuh. Sehingga perlu definisi yang lebih jelas mengenai kematian. Secara kronologis, definisi mati yang diusulkan oleh para ahli kedokteran yakni: berhentinya denyut jantung dan pernapasan, berhentinya fungsi otak (brain death). Kemudian seiring perkembangan ilmu kedokteran definisi ini berkembang lagi menjadi berhentinya fungsi batang otak (brain stem death). Sedangkan menurut PP No.18 tahun 1981, bab I pasal 1G menyebutkan bahwa, “Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti.” Definisi ini merupakan definisi yang sah di Indonesia. Namun di kalangan dokter Indonesia menggunakan acuan “Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia tentang Mati” (Lampiran SK.PB IDI No.231/PB/A.4/07/90) yang isinya: Read the rest of this entry »
Apakah Musibah Atau Pembelajaran Berharga? “Tips dan Trik”
Oleh Selfy Parkit
Tanggal 9 Juni 2011, kemarin adalah hari yang cukup melelahkan, ujian anak sekolah sudah berlangsung selama 2 hari, dan sudah 2 hari pula aku harus pulang larut malam. Kemarin anak les-anku harus belajar 3 mata pelajaran untuk ujian esok harinya, otomatis semakin larut malam pulalah jadinya. Belum lagi jika terkena macet di daerah pabrik, namun untungnya aktivitas kendaraan pada waktu itu tidak terlalu padat.
Pulang ke rumah melepas lelah rasanya ingin cepat-cepat mandi kemudian langsung tidur. Maka bergegaslah aku memasak air untuk mandi. Maklum mamaku sering sekali mengingatkanku untuk mandi air hangat pada malam hari. Menunggu air matang tidak ada salahnya menonton TV sebentar bersama adik perempuanku yang saat tu baru saja selesai latihan olah raga Tari Naga (Dragron Dance).
Beberapa menit kemudian aku menghampiri panci airku yang kelihatannya sudah hampir mendidih dan cukup matang. Kumatikan api kompor dan kuambil serbet tangan yang ada di samping kompor gas. Yachh…ougghh… aku paling tidak suka bau serbet dapur yang kotor dan basah. Baunya yang ditimbulkannya sungguh tidak karu-karuan, rasanya keinginan untuk cepat-cepat menuang air dan melempar serbet demek itu ke tempat asalnya menguing di kepalaku. Kupegang kuping panci air itu sambil merasa agak jijik. Seketika saja… Oh… No… memikirkan apa aku ini? Read the rest of this entry »
Batagor
Oleh Selfy Parkit
Apakah anda tahu nama makanan yang satu ini? Namanya Batagor alias Bakso Tahu Goreng. Makannya dengan disiram bumbu saus kacang di atasnya, rasanya hmmm… Kriuk-kriuk renyah. Bagi masyarakat Sunda makanan tersebut tentunya sudah tidak asing lagi. Ya Batagor aslinya berasal dari masyarakat Sunda, tepatnya ditemukan pada tahun 1980an di kota Bandung. Banyak sekali jenis Batagor yang terkenal di kota Bandung, namun saat ini sudah banyak disesuaikan ke dalam resep cita rasa masyarakat sunda. Tetapi kita tidak akan berbicara lebih jauh lagi mengenai Batagor, apalagi mengupasnya secara detail dan mendalam. Melainkan ada satu kisah kehidupan yang berhubungan dengan Batagor yang mungkin saja dapat membuat anda menyadari bahwa betapa anda terkadang terlalu sibuk terhadap diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain? Seberapa besarkah anda memperdulikan diri anda dibanding anda memperdulikan orang lain? Terlebih lagi orang tua anda? Semoga cerita di bawah ini mampu membuka pintu hati anda saat ini.
Read the rest of this entry »
PEMBERKAHAN AKHIR TAHUN YAYASAN BUDDHA TZU CHI INDONESIA DI JAKARTA
Minggu 29 Januari 2011, berlokasi di Jakarta International Event dan Convention Center (JITEC) Mangga Dua Square lantai 8, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyelenggarakan pemberkahan akhir tahun bersama para anggota dan relawan beserta tamu undangan. Pemberkahan akhir tahun yang biasanya diadakan menjelang pergantian tahun hari raya imlek ini, kembali mengingatkan para insan Tzu Chi dan pengunjung yang ada di sana untuk selalu berbakti kepada orangtua, dengan ditampilkannya Drama Musikal Isarat Tangan Sutra Bakti Seorang Anak oleh relawan Tzu Chi dan anggota Tzu Ching Jakarta. Tidak hanya itu saja, perayaan yang juga dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Ing H Fauzi Bowo ini, telah menyampaikan pesan moral yang amat mendalam untuk masyarakat agar selalu menjaga lingkungan. Seperti apa yang dikatakan oleh Master Cheng Yen (pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi) dalam wejangannya di penghunjung acara, bahwa unsur air, api, tanah dan angin di dunia ini seyogyanya harus dijaga keseimbangannya agar tidak terjadi bencana alam dan hal itu harus dimulai dari diri kita sendiri. –SP/Parkit
Mentari Pagi
Telah terbit buku terbaru “Mentari Pagi” (365 Dharma Pencerah Hati) oleh Penerbit Ehipassiko!
Spesifikasi Buku:
Judul: Mentari Pagi
Penulis: Selfy Parkit
Penyunting: Vina Swarnadhita
Handaka Vijjànanda
Penata Letak dan Sampul: Vidi Yulius
Penerbit: Ehipassiko
Ukuran dan ketebalan buku: ± 14 x 20 cm, 106 halaman

Aktivitas setiap orang dimulai ketika mereka bangun tidur, dan biasanya pada pagi hari. Isi buku ini mengajak kita untuk merenung sejenak dan memulai keseharian dengan awal yang cerah serta menemukan kebahagiaan di dalam diri sendiri.
365 rangkaian kata inspiratif dalam buku ini merupakan hasil pengalaman penulis sehari-hari dalam mengarungi suka-duka kehidupan yang dituangkan melalui kalimat singkat dan disusun rapih.
Seperti mentari pagi yang mencerahkan dan menghangatkan alam seisinya, begitulah seyogianya kita memulai aktivitas dengan memberi kecerahan dan kehangatan bagi setiap makhluk di sekitar kita.
*****
Buku ini bisa didapatkan dengan berdana selayaknya/ sukarela, prosedurnya:
- Silakan donasi sukarela untuk ongkos produksi dan ongkos kirim ke BCA 0710004404 Surja Handaka.
- SMS ke 085888503388 atau e-mail ke ehipassikofoundation@gmail.com: nama, alamat kirim, jumlah buku, jumlah donasi.
- Buku akan dikirim ke alamat pemesan via TIKI.
Tidak ada ketentuan donasi minimal, silakan ditaksir sendiri saja selayaknya. Apabila donasinya lebih, akan disalurkan untuk subsidi silang dan/atau untuk program beasiswa Bunda Buana (membantu pendidikan mereka yang kurang mampu).
MANUSIA PINTER CARI CHUAN (UNTUNG) MASA?
Dipikir-pikir kadang manusia itu aneh. Coba bagaimana tidak aneh, katanya manusia itu pintar, apalagi perhitungan untung ruginya lebih mantap dibandingkan makhluk-makhluk lain. Kalau soal yang namanya cari Chuan (untung), manusia ada di peringkat nomor satu deh. Tapi coba pikir, kebanyakan manusia yang katanya nomor wahid itu, sebenarnya justru malah seneng dirugikan daripada diuntungkan. Banyangkan saja mereka lebih memilih merusak dirinya sendiri ketimbang kehilangan barang yang sudah disukai, dicintai dan dilekatinya.
Contoh, manusia yang sedang kehilangan HandPhone BB barunya karena dicuri orang, atau yang paling dasyatnya lagi mobil merah merek BMWnya lecet kesenggol angkutan umum yang akhirnya lari tak bertanggung jawab. Serentak oleh karena kejadian itu mereka mulai marah-marah, cacimaki tuh orang paling kreatif yang kurang gemblengan, baik disengaja ataupun tidak telah melakukan kekreatifanya (walaupun kadang si pelaku ga mendengar sama sekali hahaha…). Lebih mantapnya lagi, selain marah-marah, timbul deh dendam, benci, sebel, sumpah serapah dan lain sebagainya. Padahal pada kenyataannya si manusia itu bukannya untung tapi malah buntung, bahkan berkali lipat. Coba kita pikirkan. Sudah BMW lecet dan biaya perbaikannya mahal, mending kalau bisa mulus ditempel pakai “Band-Aid”, atau BB tetap hilang dan ga bisa balik, walaupun sudah cape-cape caci maki. Ehhh ditambah lagi manusia malah mematikan dirinya sendiri dengan cara marah-marah, sumpah serapah, dendam, benci yang akhirnya mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatannya, karena racun-racun di dalam tubuhnya otomatis mulai dilepaskan ke dalam tubuhnya akibat kelakuan tadi. Namun dari kerugian-kerugian di atas, ada satu hal yang sesungguhnya paling instan merugikan manusia…,Apakah itu??? viagra ga sadar kalau saat itu wajahnya jelek ga enak diliat sama sekali. Hahaha….. So kalau sudah begitu, apa bener makhluk yang namanya manusia pinter cari chuan (untung)???
Monday!!! Oh No…
By. Selfy Parkit
Sabtu… Minggu… Senin… Arghh…. Mengapa harus ada hari Senin setelah hari Minggu??? Hari pertama masuk sekolah, dan hari paling malas setelah liburan akhir pekan. Hari yang sungguh-sungguh tak pernah kutunggu dalam seminggu. Lalu mengapa juga di hari yang paling menyebalkan ini harus ada pelajaran bahasa Inggris yang pelajarannya agak ngejelimet (sulit). Ditambah lagi mengapa harus Miss Yayuk yang mengajar??? Tugas… tugas… tugas… pasti tugas…. Memang guru muda yang satu itu tidak pernah jauh dari tugas. Aku malas mengerjakan semua tugas yang diberikannya. Apalagi jika tugas yang kukerjakan salah, tidak segan-segan deh si bu guru berkaca mata tebal itu akan menambahkan tugasku lagi. Hu… hu… benci… benci… kesalll…. Mengapa di hari yang malas, terdapat pelajaran yang ngejelimet, ditambah seorang guru yang menyebalkan… arrghh…. Read the rest of this entry »
Mutiara di Dalam Lumpur
Oleh Selfy Parkit
Seorang anak kecil yang sedang membawa sekantong penuh gelas-gelas plastik bekas air mineral mencari orang yang mau menukarkannya dengan selimut untuk adiknya di rumah. Anak kecil tersebut berjalan menelusuri jalan sambil meminta-minta tolong kepada orang-orang yang ditemuinya. Jika saat itu anda yang dimintai tolong, apakah anda akan memberikan selimut anda kepada anak kecil tersebut? Bagaimana jika rumah anda jauh apakah anda tetap akan memberikan selimut anda kepadanya? Apa pun jawaban anda, saya rasa kita harus tetap belajar banyak dari ibu Supratiwi yang akhirnya mau menolong anak kecil tersebut dan memberikan selimutnya dengan tulus dan ikhlas.
Rabu 19 January 2011, salah satu program televisi “Tolong” telah menayangkan peristiwa yang mengharukan tersebut. Ibu Supratiwi seorang pemulung bersama kakek angkatnya yang sedang melintasi jalan, tak sengaja bertemu dengan anak dari tim Tolong tersebut. Rumahnya yang jauh tak menjadi alasan baginya untuk tidak menolong, bahkan tak segan-segan pula ia menawari makan dan niat memberikan uang kepada anak tersebut. Read the rest of this entry »
Parse error: syntax error, unexpected ';', expecting T_STRING or T_VARIABLE or '$' in /home/selfypar/public_html/wp-content/themes/ali-han-natural/footer.php on line 12


